Senin, 09 November 2009

Rita Ikut Senam Aerobik Bersama Ratusan Peserta





TENGGARONG: Kutai Kartanegara "Spectacular" Aerobicaholic 2009 Se-Kalimantan yang digelar oleh Sanggar Senam Dio Fit dan Fun dengan menghadirkan instruktur Thomas asal Surabaya, Marcell, Ronie yang dilaksanakan diruang serba guna Kantor Bupati Kukar di Tenggarong, Minggu (8/11) kemarin berlangsung meriah. Acara yang resmi dibuka Sekkab Kukar HAM Haryanto Bahroel itu digelar dalam rangka menyambut dan memeriahkan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2009. Tercatat sekitar 310 peserta dari berbagai daerah di Kaltim hingga Kalsel turut ambil bagian.
Ketua KONI Kukar Rita Widyasari,S.Sos,MM dalam sambutannya, mengatakan menyambut baik dan memberikan dukungan serta penghargaan yang setinggi-tingginya atas terlaksananya acara Aerobicholic, 
"Olahraga bukan hanya bicara tentang prestasi semata melainkan juga bicara tentang bagaimana olahraga mampu memasyarakat dalam kehidupan sehari-hari, guna melahirkan pola hidup yang lebih sehat bagi masyarakat." kata Rita Widyasari.
Senam Aerobic merupakan jenis olahraga yang masih berjuang untuk bisa masuk dan menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). 
Bila di perhatikan Aerobic dengan Senam atau Dansa yang juga menekankan pada keindahan gerak serta keselarasan dalam kemampuan fisik yang memainkannya. "Untuk itu dengan pelaksanaan yang tersecedule dan berkualitas baik itu dalam skala local maupun nasional, menjadi pertimbangan sendiri bagi pengambil kebijakan masuk tidaknya aerobic dalam PON. Secara sarana aerobic lebih simple dan murah dibandingkan olahraga lainnya semacam anggar, road race, menembak, dimana olahraga ini lebih dulu masuk dalam cabang yang dipertandingkan." ungkap Rita.
Secara institusi KONI yang merupakan wadah berhimpun seluruh Cabor saat ini sedang giat dalam melakukan pembinaan olahraga didaerah. 5 (lima) cabang olahraga yang dalam waktu dekat akan dipertandingkan dibeberapa kecamatan kecamatan di wilayah Kukar yakni Sepak Bola, Bola Volly, Bulu Tangkis, Catur, Pencak Silat. kip/awi



Minggu, 08 November 2009

Rita Dapat Kejutan di HUT ke-36







Tenggarong, Poskota Kaltim
Kediaman Ketua DPRD Kukar Rita Widyasari,S.Sos,MM dibilangan Jalan Melati, Tenggarong, Sabtu (7/11) lalu nampak tak seperti biasanya. Sejumlah rekan dan sahabat berdatangan ke kediaman Rita Widyasari.
Kedatangan mereka ternyata untuk memberikan ucapan selamat, sebab pada hari itu merupakan hari ulang tahun Rita Widyasari yang ke-36 tahun, Awang Yacoub Luthman yang merupakan Sekretaris Partai Golkar Kutai Kartanegara dan juga anggota DPRD Kukar sengaja membawa nasi tumpeng terkhusus untuk Rita Widyasari, sementara Nourhayati Touristyani yang merupakan pegawai di Sekretariat DPRD Kukar sengaja membawa pedagang bakso, sedangkan pengurus KNPI Kukar membawa kue ulang tahun.
“Ini kejuatan buat saya, saya tidak mempersiapkan segala sesuatunya untuk merayakan hari ulang tahun saya, karena tidak ada rencana untuk kita buat acara perayaan. Semua ini merupakan surprise dari teman-teman tercinta saya,” kata Rita Widyasari disela-sela acara itu.
Rita menyadari bahwa usia 36 tahun merupakan usia yang tak muda lagi. Bukan umur yang bertambah, sebenarnya umur semakin berkurang. ”Diusia yang genap 36 tahun ini harapan saya, saya lebih mendalami arti sebuah kehidupan, lebih bijak dan dewasa dalam melangkah kedepannya. Saya ingin berbuat lebih baik lagi, dan bisa bermanfaat bagi banyak orang, untuk masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara pada umumnya dan mengabdi untuk keluarga,” ujar Rita Widyasari.
Oleh karenanya, lanjut Rita Widyasari, dukungan dan support dari rekan-rekan disekitarnya serta masyarakat Kukar sangat diperlukan, untuk bisa dan mampu memimpin serta menjalani kehiduapan yang lebih baik kedepannya.
“Saya mohon doa dan dukungannya, agar mampu menjadi yang terbaik buat keluarga, daerah dan negara,”tandas Rita Widyasari.
Pada perayaan hari ulang tahun itu serasa begitu kurang lengkap sebab keluarga besarnya berada di Jakarta, ayahanda tercinta Syaukani HR masih terbaring sakit di Jakarta. Nampak mendampingi Rita Widyasari yaitu suami tercinta Endri Elfran Syahril yang biasa disapa Bung Beny. Bahkan ketika menyampaikan ucapan selamat kepada istri tercinta, perasaan haru muncul dalam diri Beny, air matanya pun tak terbendung.
“Saya ucapkan selamat kepada istri tercinta saya dihari ulang tahunnya yang ke 36, semoga akan lebih dikuatkan lagi iman dan taqwanya, dalam menjalani proses kehidupan dan dalam menjalani segala kegiatannya. Dan harapan untuk keluarga, semoga menjadi keluarga yang rukun dan damai,” terang Beny.
Beny mengaku sangat bangga berada di keluarga besar Syaukani HR. Sosok Syaukan HR dimata keluarga, utamanya pada dirinya adalah sosok orangtua yang membanggakan dan sebagai panutan, tak hanya dikeluarga tetapi juga masyarakat Kukar.
Kita mendaokan semoga bapak cepat diberi kesembuhan oleh Allah SWT,” terang Beny.
Ucapan selamat untuk Rita Widyasari, tidak hanya datang dari keluarga dan rekan-rekannya, dijaringan sosial facebook Rita Widyasari juga kebanjiran ucapan selamat. Ada sekitar 4.000 orang yang memberikan ucapan selamat kepada dirinya.kip/awi








Sabtu, 31 Oktober 2009

Partai Golongan Karya


Partai Golongan Karya (Partai Golkar), sebelumnya bernama Golongan Karya (Golkar) dan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), adalah sebuah partai politik di Indonesia. Partai GOLKAR bermula dengan berdirinya Sekber GOLKAR di masa-masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno, tepatnya 1964 oleh Angkatan Darat untuk menandingi pengaruh Partai Komunis Indonesia dalam kehidupan politik. Dalam perkembangannya, Sekber GOLKAR berubah wujud menjadi Golongan Karya yang menjadi salah satu organisasi peserta Pemilu.
Dalam Pemilu 1971 (Pemilu pertama dalam pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto), salah satu pesertanya adalah Golongan Karya dan mereka tampil sebagai pemenang. Kemenangan ini diulangi pada Pemilu-Pemilu pemerintahan Orde Baru lainnya, yaitu Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Kejadian ini dapat dimungkinkan, karena pemerintahan Soeharto membuat kebijakan-kebijakan yang sangat mendukung kemenangan GOLKAR, seperti peraturan monoloyalitas PNS, dan sebagainya.
Setelah pemerintahan Soeharto selesai dan reformasi bergulir, GOLKAR berubah wujud menjadi Partai GOLKAR, dan untuk pertama kalinya mengikuti Pemilu tanpa ada bantuan kebijakan-kebijakan yang berarti seperti sebelumnya di masa pemerintahan Soeharto. Pada Pemilu 1999 yang diselenggarakan Presiden Habibie, perolehan suara Partai GOLKAR turun menjadi peringkat kedua setelah PDI-P.
Ketidakpuasan terhadap pemerintahan Megawati Soekarnoputri menjadi salah satu sebab para pemilih di Pemilu legislatif 2004 untuk kembali memilih Partai GOLKAR, selain partai-partai lainnya seperti Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, dan lain-lain. Partai GOLKAR menjadi pemenang Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif pada tahun 2004 dengan meraih 24.480.757 suara atau 21,58% dari keseluruhan suara sah.
Kemenangan tersebut merupakan prestasi tersendiri bagi Partai GOLKAR karena pada Pemilu Legislatif 1999, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan mendominasi perolehan suara. Dalam Pemilu 1999, Partai GOLKAR menduduki peringkat kedua dengan perolehan 23.741.758 suara atau 22,44% dari suara sah. Sekilas Partai GOLKAR mendapat peningkatan 738.999 suara, tapi dari prosentase turun sebanyak 0,86%.
Saat ini, Partai Golkar dipimpin oleh Ketua Umum Aburizal Bakrie. Sebelumnya jabatan ini dipegang oleh Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia 2004–2009.
Perolehan suara
Golkar pada pemilu 1999 memperoleh suara 22% suara. Ini merupakan kemerosotan yang jauh sekali dari pada pemilu-pemilu sebelumnya. Dalam pemilu 1997 Golkar (belum menjadi partai) memperoleh suara sebanyak 70,2%, sedangkan dalam pemilu-pemilu sebelumnya juga sekitar 60 sampai 70%. Contohnya, dalam pemilu tahun 1987 Golkar dapat menguasai secara mutlak 299 kursi dalam DPR. Selama Orde Baru, DPR betul-betul dikuasai Golkar dan militer.
Pencapaian pada Pemilu Anggota DPR 2009
Partai Golkar mendapat 108 kursi (19,2%) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR 2009, setelah mendapat sebanyak 15.037.757 suara (14,5%). Perolehan suara dan kursi PG menempatkannya pada posisi kedua dalam Pemilu ini.
Sejarah
Pada tahun 1964 untuk menghadapi kekuatan PKI (dan Bung Karno), golongan militer, khususnya perwira Angkatan Darat ( seperti Letkol Suhardiman dari SOKSI) menghimpun berpuluh-puluh organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, dan nelayan dalam Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).
Sekber Golkar didirikan pada tanggal 20 Oktober 1964. Sekber Golkar ini lahir karena rongrongan dari PKI beserta ormasnya dalam kehidupan politik baik di dalam maupun di luar Front Nasional yang makin meningkat. Sekber Golkar ini merupakan wadah dari golongan fungsional/golongan karya murni yang tidak berada dibawah pengaruh politik tertentu. Jumlah anggota Sekber Golkar ini bertambah dengan pesat, karena golongan fungsional lain yang menjadi anggota Sekber Golkar dalam Front Nasional menyadari bahwa perjuangan dari organisasi fungsional Sekber Golkar adalah untuk menegakkan Pancasila dan UUD 1945. Semula anggotanya berjumlah 61 organisasi yang kemudian berkembang hingga mencapai 291 organisasi.
Dengan adanya pengakuan tentang kehadiran dan legalitas golongan fungsional di MPRS dan Front Nasional maka atas dorongan TNI dibentuklah Sekretariat Bersama Golongan Karya, disingkat Sekber GOLKAR, pada tanggal 20 Oktober 1964. Terpilih sebagai Ketua Pertama, Brigadir Jenderal (Brigjen) Djuhartono sebelum digantikan Mayor Jenderal (Mayjen) Suprapto Sukowati lewat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I, Desember 1965.
Pada awal pertumbuhannya, Sekber GOLKAR beranggotakan 61 organisasi fungsional yang kemudian berkembang menjadi 291 organisasi fungsional. Ini terjadi karena adanya kesamaan visi diantara masing-masing anggota. Organisasi-organisasi yang terhimpun ke dalam Sekber GOLKAR ini kemudian dikelompokkan berdasarkan kekaryaannya ke dalam 7 (tujuh) Kelompok Induk Organisasi (KINO), yaitu:
Koperasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO)
Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI)
Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR)
Organisasi Profesi
Ormas Pertahanan Keamanan (HANKAM)
Gerakan Karya Rakyat Indonesia (GAKARI)
Gerakan Pembangunan
Untuk menghadapi Pemilu 1971, 7 KINO yang merupakan kekuatan inti dari Sekber GOLKAR tersebut, mengeluarkan keputusan bersama pada tanggal 4 Februari 1970 untuk ikut menjadi peserta Pemilu melalui satu nama dan tanda gambar yaitu Golongan Karya (GOLKAR). Logo dan nama ini, sejak Pemilu 1971, tetap dipertahankan sampai sekarang.
Pada Pemilu 1971 ini, Sekber GOLKAR ikut serta menjadi salah satu konsestan. Pihak parpol memandang remeh keikutsertaan GOLKAR sebagai kontestan Pemilu. Mereka meragukan kemampuan komunikasi politik GOLKAR kepada grassroot level. NU, PNI dan Parmusi yang mewakili kebesaran dan kejayaan masa lampau sangat yakin keluar sebagai pemenang. Mereka tidak menyadari kalau perpecahan dan kericuhan internal mereka telah membuat tokoh-tokohnya berpindah ke GOLKAR.
Hasilnya di luar dugaan. GOLKAR sukses besar dan berhasil menang dengan 34.348.673 suara atau 62,79 % dari total perolehan suara. Perolehan suaranya pun cukup merata di seluruh propinsi, berbeda dengan parpol yang berpegang kepada basis tradisional. NU hanya menang di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, Partai Katholik di Nusa Tenggara Timur, PNI di Jawa Tengah, Parmusi di Sumatera Barat dan Aceh. Sedangkan Murba tidak memperoleh suara signifikan sehingga tidak memperoleh kursi DPR.
Kemudian, sesuai ketentuan dalam ketetapan MPRS mengenai perlunya penataan kembali kehidupan politik Indonesia, pada tanggal 17 Juli 1971 Sekber GOLKAR mengubah dirinya menjadi GOLKAR. GOLKAR menyatakan diri bukan parpol karena terminologi ini mengandung pengertian dan pengutamaan politik dengan mengesampingkan pembangunan dan karya.
September 1973, GOLKAR menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) I di Surabaya. Mayjen Amir Murtono terpilih sebagai Ketua Umum. Konsolidasi GOLKAR pun mulai berjalan seiring dibentuknya wadah-wadah profesi, seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI).
Setelah Peristiwa G30S maka Sekber Golkar, dengan dukungan sepenuhnya dari Soeharto sebagai pimpinan militer, melancarkan aksi-aksinya untuk melumpuhkan mula-mula kekuatan PKI, kemudian juga kekuatan Bung Karno.
Pada dasarnya Golkar dan TNI-AD merupakan tulang punggung rezim militer Orde Baru. Semua politik Orde Baru diciptakan dan kemudian dilaksanakan oleh pimpinan militer dan Golkar. Selama puluhan tahun Orde Baru berkuasa, jabatan-jabatan dalam struktur eksekutif, legislatif dan yudikatif, hampir semuanya diduduki oleh kader-kader Golkar.
Keluarga besar Golongan Karya sebagai jaringan konstituen, dibina sejak awal Orde Baru melalui suatu pengaturan informal yaitu jalur A untuk lingkungan militer, jalur B untuk lingkungan birokrasi dan jalur G untuk lingkungan sipil di luar birokrasi. Pemuka ketiga jalur terebut melakukan fungsi pengendalian terhadap Golkar lewat Dewan Pembina yang mempunyai peran strategis.
Setelah Soeharto mengundurkan diri pada 1998, keberadaan Golkar mulai ditentang oleh para aktivis dan mahasiswa.
Peraturan Monoloyalitas
Peraturan Monoloyalitas merupakan kebijakan pemerintahan Orde Baru yang mewajibkan semua pegawai negeri sipil (PNS) untuk menyalurkan aspirasi politiknya kepada Golongan Karya. Setelah Suharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998, kebijakan ini dicabut. Sekarang pegawai negeri sipil bebas menentukan wadah aspirasi politiknya.
Ketua Umum DPP Golkar
Djuhartono (1964-1969)
Suprapto Sukowati (1969–1973)
Amir Moertono (1973–1983)
Sudharmono (1983–1988)
Wahono (1988–1993)
Harmoko (1993–1998)
Akbar Tandjung (1998–2004)
Jusuf Kalla (2004–2009)
Aburizal Bakrie (2009–sekarang)



Kamis, 29 Oktober 2009

Perjalanan 26 Kader Golkar Kukar ke Bali





Nikmati Sunset Pantai Dreamland
Tenggarong, Poskota Kaltim
Liburan ke Bali ternyata masih tetap menjadi pilihan yang paling ideal bagi wisatawan nusantara (wisnu) dan wisatawan mancanegara (wisman) pasca tragedi bom Bali I & II. Pulau Bali sebagai tempat wisata utama di Indonesia masih mempunyai daya tarik yang memikat bagi semua orang dari seluruh dunia.
Khususnya, rombongan DPD Partai Golkar (Golongan Karya) Kutai Kartanegara yang berjumlah 26 orang dikoordinatori Jurnati,SE itu mengaku sangat senang menikmati liburan di Bali sejak tanggal 20 sampai 24 Oktober 2009 lalu. Rombongan yang sebagian merupakan caleg (calon legislatif) perempuan yang belum berhasil duduk di parlemen pada Pemilu Legislatif 2009 lalu tersebut diajak mengunjungi tempat wisata seperti Tanah Lot, Tanjung Benoa, Bedugul, Pasar Seni Sukawati, Garuda Wisnu Kencana, Alas Kedaton, Kintamani serta Pantai Dreamland.
“Wisata yang paling berkesan selama berada di Bali yakni saat berada di Pantai Dreamland karena kita bisa melihat sunset dengan leluasa. Belum lagi tempat kita menginap berada di pusat keramaian dekat Pantai Kuta,”ungkap Herlina kepada Poskota Kaltim baru-baru ini.
Selain mengunjungi tempat wisata bahari, rombongan yang pandu oleh I Gede Eka tersebut juga diajak ke pusat pembuatan kerajinan perak, pembuatan bed cover. Para rombongan tak lupa juga diajak untuk rileks di pantai guna melakukan aktifitas parasailing, snorkeling, jet ski, banana boat, dolphin tour (melihat lumba-lumba).
“Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Rita Widyasari selaku Ketua Umum DPD Partai Golkar Kukar karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berlibur bersama ke Bali,”ucap Hj Nani Lasworo.
Selain mendapat pengalaman cukup berharga mengunjungi tempat-tempat wisata dan tempat kerajinan tangan khas Bali. Ada pengalaman lain yang didapat yaitu ”kenapa Megawati sangat dekat dengan masyarakat Bali?”, ternyata jawabannya bagi orang Bali, PDIP dengan tokoh Megawati Soekarnoputri adalah buah temali tradisional-kultural. Soekarno yang menjadi pemimpin besar Indonesia dianggap dan dipuja sebagai anak kandung Bali, mengingat Ibundanya Soekarno bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Bali. 
Megawati beruntung dari persepsi ini. Inilah yang menciptakan integrasi yang awet antara (Megawati/PDIP) dengan masyarakat Bali. Semoga saja, apa yang terjadi di Bali itu bisa juga terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara yakni mengingatkan kita akan kepemimpinan Prof. Dr. H Syaukani HR,MM yang kini mulai diwariskan kepada anandanya Rita Widyasari yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Kutai Kartanegara.kip
===


Rita Prihatin Atas Kondisi Bangunan SMAN 1 Tenggarong





Tenggarong, Poskota Kaltim
SMA Negeri 1 Tenggarong, Rabu (28/10) merayakan Hari Ulang Tahunny (HUT) yang ke 45. Pada perayaan tersebut ada yang hal cukup istimewa, karena Ketua DPRD Kutai Kartanegara Rita Widyasari menyempatkan diri hadir dalam perayaan Ulang Tahun sekolah tersebut, setelah usai mengikuti upacara peringatan hari Sumpah Pemuda di Halaman Kantor Bupati Kukar.
Berbagai lomba digelar mewarnai perayaan Ulang Tahun SMAN 1 Tenggarong, seperti pidato bahasa Inggris maupun loma news reading yang peserta tidak hanya dari para siswa-siswi dari SMAN Tenggarong namun dari peserta juga berasal pelajar tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama).
Dalam kesempatan itu Rita Widyasari didampingi Kepala SMAN 1 Tenggarong Achmadi SPd juga menyempatkan untuk melihat secara langsung kondisi sekolah tersebut, yang ternyata masih banyak yang belum berubah bangunanya sejak sekolah tersebut dibangun. Dan kenyataannya sarana prasana disekolah tersebut masih belum memadai sebagai salah satu sekolah kebanggaan bagi warga Kukar pada umumnya dan khususnya bagi warga Tenggarong.
“Sarana prasana di SMAN 1 Tenggarong sangat mengharukan sekali. Bentuk bangunan dan ruangan kelas masa sama seperti dulu, tidak berubah. Meski saya tidak alumnus sekolah tersebut, namun dari pernyataan Kepala Sekolah dan para guru disekolah tersebut, ternyata sejak dibangun sekolah tersebut sampai sekarang belum ada pembenahan dan renovasi total,” ungkap Rita Widyasari kepada Poskota Kaltim usai kunjungan kemarin.
Rita Widyasari mengatakan bahwa keberaadaan SMAN 1 Tenggarong merupakan sekolah favorit yang sebenarnya menjadi kebanggaan bagi warga Kutai Kartanegara. Bahkan jika melihat sistem pembelajaran disekolah tersebut juga sudah sangat bagus, namun sayangkan sarana prasana belum mendukungnya.”Saya sangat mencita-citakan agar Kutai Kartanegara ada sekolah yang bertaraf internasional, baik itu dari tingkat SD, SMP maupun SMA.,” ujar Rita Widyasari.
Oleh karena itu, lanjut Rita Widyasari pada tahun anggaran 2010 mendatang, DPRD Kukar bersama Pemerintah Kukar akan melakukan koordinasi terkait dengan proses pembenahan dan melengkapai sarana prasana yang dibutuhkan sekolah. Karena pendidikan menjadi salah satu tonggak terpenting untuk kemajuan pembangunan didaerah ini. Apalagi diketahui bahwa SMAN 1 Tenggarong didaulat menjadi sekolah rintisan bertaraf internasional.”Kalau tidak didukung dengan sarana prasana yang memadai, agak sulit untuk mencapainya, namun jika hal tersebut diwujudkan maka pencapaian sekolah internasional di Kukar akan bisa direalisasikan. Sehingga kedepan, akan terlihat kompetitif persaingan untuk menyaring para calon siswa yang memang benar-benar masih dalam kualifikasi untuk dididik disekolah tersebut,” papar Rita Widyasari.
Sementara itu Kepala SMAN 1 Tenggarong Achmadi SPd menyatakan bahwa SMAN 1 Tenggarong yang saat ini sudah berusia 45 tahun, telah membuktikan diri sebagai sekolah yang tetap menjadi pilihan bagi masyarakat. Ini dibuktikan, banyaknya alumni dari SMAN 1 Tenggarong yang berhasil, baik sebagai pejabat maupun pegawai lainnya.
“Namun kita sangat prihatin, meski sekolah ini sudah memasuki umur ke 45 tahun, sarana prasananya yang kita miliki masih belum memadai.” ujar Achmadi.
Achmadi mengaku, bahwa SMAN 1 Tenggarong merupakan salah satu sekolah di Kukar yang didaulat untuk nantinya dijadikan sekolah menengah yang bertaraf internasional.”SMAN 1 Tenggarong saat ini menjadi sekolah rintisan bertaraf internasional, kalau sarana prasana tidak memadai tentu program tersebut tidak akan terwujud,” tandas Achmadi.awi/kip



Ketua DPRD Sidak RSU Parikesit Tenggarong





Tenggarong, Poskota Kaltim
Ketua DPRD Kukar Rita Widyasari SSos MM, Rabu (28/10) pagi kemarin melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke RSU Parikesit Tenggarong.Kunjungan itu dilakukannya, setelah menghadiri ulang tahun SMAN 1 Tenggarong yang ke 45.
Sidak tersebut merupakan sidak kali pertama dilakukan Rita Widyasari sejak dirinya dilantik sebagai Ketua DPRD Kutai Kartanegara, pekan lalu. Tiba di RSU Parikesit sekitar pukul 10.00 Wita pagi.
Didampingi Agus Wardiansyah Kepala Litbang RSU Parikesit, Rita Widyasari secara khusus melihat langsung keberadaan para pasien yang dirawat dirumah sakit tersebut. Bahkan ketika berada didepan ruang informasi, Rita Widyasari sempat berdialog dengan salah seorang pasien anak-anak yang terluka akibat terbakar. Oleh Rita Widyasari, orang tua yang menggendong anak tersebut diberikan santunan untuk meringankan biaya berobat.
Setelah itu, Rita Widyasari langsung menuju ruang Melati dan ruang yang secara khusus menangani pasien kurang mampu (gakin). Di ruang melati yang merupakan ruang yang secara khususnya untuk merawat para pasien yang mau melahirkan atau yang sudah melahirkan,s empat berdialog dengan para perawat dan pasien yang baru satu minggu melahirkan. Pada kesempatan itu pula, Rita Widyasari juga mengeluarkan santunan untuk pasien diruang tersebut.“Kebetulan kita mampir ke rumah sakit Parikesit Tenggarong melakukan inspeksi mendadak, karena memang kedatangan kami ke rumah sakit tidak terjadwalkan. Namun alhamdulilah, kita bisa melihat langsung kondisi rumah sakit sekaligus menengok langsung sejumlah pasien di rumah sakit tersebut,” papar Rita Widyasari.
Rita Widyasari menjelaskan, kondisi RSU Parikesit Tenggarong saat ini diakui memang perlu untuk segera rehab total, karena keterbatasan ruangan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. DPRD Kutai Kartanegara sendiri, sangat mendukung agar proses pembangunan RSU Parikesit Tenggarong segera dilakukan.
“Supaya lebih maksimal lagi dalam hal memberikan pelayanan kesehatan, dewan sangat mendukung supaya pembangunan rumah sakit segera dilakukan. Namun kita juga harus melihat bagaimana rencana pembangunan rumah sakit tersebut, apakah nanti akan dibangun di Tenggarong Seberang atau memang di lokasi rumah sakit Parikesit sekarang ini” papar Rita Widyasari.
Rita Widyasari menambahkan, jika pembangunan tetap dilakukan pada lokasi rumah sakit yang sekarang ini, tentu harus mempertimbangkan keberadaan pasien yang dirawat dirumah sakit tersebut.
“Kemudian kalau dibangun di Kecamatan Tenggarong Seberang segala sesuatunya juga harus dipertimbangkan, khusunya masalah Amdalnya. Kemudian kalau dibangun dengan merehap total kondisi bangunan rumah sakit yang sekarang juga harus mempertimbangkan kondisi pasien yang dirawat di dirumah sakit tersebut,” ujar Rita Widyasari.
Lanjut Rita Widyasari, dalam waktu dekat ini DPRD akan meminta pihak rumah sakit untuk mempresentasikan rencana pembangunan rumah sakit dimaksud.”Dulu memang sempat dipresentasikan kepada anggota dewan yang lama, namun nanti kita minta rencana tersebut bisa dipresentasikan lagi ke para anggota DPRD Kukar yang baru,” tandas Rita Widyasari.awi/kip





Rita Ucapkan Selamat Ultah Sultan ke-85



Tenggarong, Poskota Kaltim
Ditengah-tengah kesibukan tugas sebagai Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Rita Widyasari S.Sos, MM tetap mengedepankan silaturahmi dengan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadhipura H. Aji Salehuddin II, sekaligus mengucapkan selamat atas HUT Sultan ke-85. Dengan didampingi secara langsung oleh Suami 
Endri Elfran Syahrir, S.Sos, MM, Senin (27/10) kemarin. 
Sambutan dari sultan beserta keluarga sangat positif, dikediamannya. Tak terasa suasana keakraban terpancar dari Rita dan Suami dengan Sultan H. Aji Salehuddin II. Bahkan dalam perbincangan Sultan H.Aji Salehuddin II juga menanyakan kesehatan Prof DR H Syaukani HR MM ayahanda Rita Widyasari yang juga mantan Bupati Kutai Kartanegara yang sekarang dirawat di RSPP Jakarta. 
Dijelaskan oleh Rita Widyasari, bahwa kondisi ayahandanya membaik. Dalam kesempatan itupun, tidak lupa Rita Widyasari menyatakan permohonan maaf karena saat bertepatan hari ulang tahun Sultan H Aji Salehuddin II masih berada diluar daerah, tepatnya berada di Yogjakarta karena tugas sebagai Ketua DPRD sebagaimana yang diamanahkan oleh masyarakat Kutai Kartanegara. 
Meskipun begitu, disampaikan oleh keluarga Sultan H. Aji Salehuddin II tetap saja Rita Widyasari mengirimkan tumpeng berikut pernak-pernik perayaan ulang tahun yang dinilai merupakan penghargaan yang tak terhingga. 
Dalam suasana yang penuh keakraban dan kekerabatan itupun, Rita Widyasari beserta suami Endri Elfran Sharir juga mengharapkan doa selamat dari Sultan H. Aji Salehuddin II beserta keluarga atas tugas dan tanggungjawab sebagai wakil rakyat, sekaligus doa atas kesehatan ayahandanya supaya cepat membaik seperti sedia kala.
Bersamaan dengan kunjungan langsung tersebut, Rita Widyasari dan Endri Elfran Syahril juga memberikan kado ulang tahun kepada Sultan H. Aji Salehuddin II berupa baju batik Yogjakarta.kip/dp